b1.jpg

Blog

Rumah Kedua

a.jpg

Ketika kita mulai melihat dunia dari berbagai perspektif, akan ada saatnya dimana kita akan merasa terkungkung ketika tinggal hanya di satu tempat. Ada keinginan yang sangat besar untuk pergi ke tempat jauh dan melihat hal-hal yang berbeda dari keseharian kita. Mencoba melihat diri kita sendiri dari perspektif orang lain, dan mencoba melihat "rumah" kita sendiri dari beranda rumah orang lain. Saya yakin bahwa setiap orang memiliki motivasi yang berbeda-beda untuk berkunjung ke satu tempat, bahkan memutuskan untuk tinggal di tempat yang jauh dari daerah kelahiranya.  Rasa nyaman, kekaguman serta  kesesuaian pola pikir dengan budaya yang ada di tempat baru mungkin merupakan beberapa alasan beberapa orang untuk memutuskan pergi atau tinggal di suatu tempat / negara yang bukan rumah tempat mereka lahir.

Jepang, adalah adalah satu tempat yang bisa memberikan alasan-alasan logis untuk beberapa orang yang ingin merasakan negara dengan "sistem kehidupan" yang membuat orang-orang yang berada di dalamnya merasa nyaman, teratur, bersih, kreatif serta bisa memanjakan mata dan pikiran dengan  keindahan alam serta budaya yang dibuat masyarakat dari berbagai jaman  yang terpelihara dengan rapi. Dimana  di balik itu semua, ada disiplin dan kerja keras yang tentu sangat jauh dari zona nyaman dan kemalasan, yang pada akhirnya bisa  membentuk sistem berkehidupan yang terbentuk seperti sekarang.

a2.jpg

Awal 2011, saya memutuskan untuk mencoba hal yang baru. saya berkesempatan untuk ikut program magang di Jepang dan tinggal disana selama 3 tahun untuk kemudian bekerja di industri pertanian. Satu keputusan yang kemudian memberikan banyak pelajaran kepada saya. Seperti yang saya tulis di atas, Jepang adalah salah satu negara paling dikenal di dunia.Negara yang menjadi tujuan wisata yang unik, dan negara yang bisa mengikuti bahkan menjadi trendsetter di berbagai bidang di planet bumi. Tapi kekaguman saya timbul bukan hanya karena kemampuanya untuk bersaing secara global dalam bidang ekonomi. Tapi bagaimana Jepang mampu menjadi dirinya sendiri di tengah gempuran globalisasi. Bagaimana negara ini membentuk citra sebagai negara timur yang bisa menjadi pioneerdalam berbagai hal, tanpa harus meninggalkan budaya-budaya leluhur namun tetap bisa menjadi idola bagi banyak orang di dunia.Saya sering sekali membandingkan Jepang dengan Bali, tanah kelahiran saya. Tempat dimana budaya leluhur masih dipegang, namun dengan pikiran manusianya yang terus bergerak maju.Hanya saja, jepang bisa membagi porsi pembangunan secara adil untuk semua pihak. Pariwisata berkembang begitu pesat, begitu pula dengan pertanian. Pun dengan industri yang lain. Pembagian yang diatur sedemikian rupa, meninggalkan kesan kepada saya bahwa di jepang, pembangunan adalah bagaimana kita memvisikan masa depan, membentuk pembaharuan dan perbaikan-perbaikan dari apa yang ada, serta memaksimalkan apa-apa yang dulu ada, tanpa harus mengeleminasi hal-hal yang sedang berkembang ke arah yang baik.Kesadaran bahwa hal yang dibutuhkan dalam pembangunan adalah keseimbangan. Bahwa ada keterkaitan dan rasa saling membutuhkan antara satu bidang dengan bidang yang lain. Hal yang sulit saya lihat di Bali.

ai.jpg

Jika dijabarkan dengan sederhana, ada beberapa hal yang membuat saya merasa bahwa Jepang adalah tempat yang bisa saya sebut sebagai rumah kedua. Pertama, bagaimana sistem yang dibuat pemerintah sangat mempermudah masyarakat.Transportasi publik yang  terintegrasi memudahkan orang-orang untuk bepergian, birokrasi di kantor pelayanan publik yang tidak ribet merupakan contoh dari sistem yang baik yang dibuat Jepang. Kedua, Kemampuan orang jepang untuk menjaga apa yang menjadi miliknya.  Jepang dalam melakukan pembangunan yang mengedepankan fungsi melalui perencanaan jangka panjang yang sangat matang. contohnya? Hutan kota Meiji Jingu Maeyang dibangun tahun 1915 yang direncanakan akan terbentuk dengan sangat baik setelah 150 tahun. 150 tahun sejak pohon pertama yang didonasikan dari seluruh negeri dan ditanam oleh relawan, Hutan Meiji Jingu diharapkan bisa tumbuh tanpa campur tangan manusia, serta bisa menjadi habitat dari berbagai tanaman dan satwa di tengah kota tokyo, kini setelah 90 tahun dari penanaman pohon pertama, kita bisa menikmati sebuah hutan yang padat dengan segala kompleksitas habitat di dalamnya. Hal lain misalnya pembangunan jalur MRT / subway di Tokyo di tahun 30an,  adalah salah satu contoh pembangunan yang visioner, dengan perencanaan tata ruang yang sangat matang.  Yang ketiga, Kedisiplinan. Bagaimana orang jepang dididik untuk tidak egois. Bagaimana dari usia anak-anak diajarkan untuk menghormati hak-hak orang lain, bahkan dari hal yang sangat sederhana, yaitu Antre. Hal-hal dasar yang bisa membuat orang merasa bahwa sistem dibuat untuk mempermudah gerak masyarakat dengan mengetahui hak dan kewajiban individu, bukan untuk mengekang kehidupan orang-orang yang ada di dalamnya. Setidaknya, itu yang saya temukan di Jepang yang membuat saya merasa bahwa ketika saya masuk ke dalam sistem itu, segala hal menjadi lebih rapi, dimudahkan dan tidak ribet dan sistem benar-benar dibuat untuk mempermudah kehidupan masyarakat.

Mungkin untuk beberapa orang, rumah adalah tempat dimana mereka merasa nyaman untuk tinggal, dan batas negara hanyalah pagar-pagar imajiner yang dibuat untuk mengisi keegoisan beberapa orang.

Ubud, 4 Januari 2016

ac.jpg
ah.jpg
al.jpg
ad.jpg
a5.jpg
b2.jpg
b8.jpg
b11.jpg
b4.jpg
b10.jpg
b3.jpg
b6.jpg
ae.jpg
ag.jpg
7.jpg
12.jpg
b13.jpg
894.JPG
Made Dwicahyana Putra